GLOBAL WARMING: REFLEKSI RASA EGO MANUSIA TERHADAP ALAM
Pemanasan global atau lebih dikenal dengan istilah Global Warming merupakan fenomena yang memiliki efek serius bagi eksistensi kehidupan manusia di muka bumi dan sekaligus patut diperhatikan untuk dicarikan solusinya. Terkadang fenomena ini membuat manusia gelisah akan eksistensinya di muka bumi ini. Meskipun, penyebab utama dari Global Warming adalah manusia itu sendiri. Kehidupan manusia dengan segala fasilitas serba modern membuat bumi meringis kesakitan. Tetapi, mayoritas manusia tidak sadar akan hal itu, mereka tetap memproduksi dan mengkomsumsi barang-barang yang dapat meningkatkan resiko global warming demi kepuasan keinginan mereka. Rasa ego itu melekat padat pada diri manusia, khususnya pada fase yang sarat kemodernan. Manusia hanya mengerti terhadap keinginannya, sama sekali tidak memberi pengertian pada keinginan alam ini. Seolah alam itu bukan bagian dari kehidupan mereka, alam tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap mereka. Hal inilah yang patut diselesaikan segera dan dicarika solusinya. Memberi pemahaman yang benar dan mengajak kepada manusia, paling tidak kepada orang yang terdekat dengan kita. Setidaknya dapat mengurangi resiko dan efek Global Warming
Friday, June 26, 2009
Tuesday, June 9, 2009
Monday, June 1, 2009
tOKOH filsafat Islam
PENDAHULUAN
Filsafat Yunani tersebar ke Timur Tengah bersama dengan penaklukan Iskandar Agung. Para Ulama dan ahli fikih mempunyai andil dalam penaklukan itu. Hal ini menjadikan filsafat Yunani berkembang di daerah ini bahkan sampai datangnya penaklukan dari Roma pun, aliran-aliran ini msih berpengaruh dalam masyarakat.
Oleh karena itu, sejarah menyatakan bahwa filsafat Islam lahir akibat adanya kontak budaya antara Yunani dan Islam. Kontak ini terjadi melalui beberapa cara, antara lain penerjemahan buku atau interaksi langsung. Hal ini seperti terjadi pada pemerintahan Abbasiyyah. Tidak dipungkiri, filsuf Islam pun lahir disebabkan adanya filsafat Islam sebagaimana adanya filsuf Yunani.
Salah satu filsuf Islam yang terkenal adalah Al Farabi yang akan penulis jelaskan pada makalah ini. Ada beberapa pemikiran Al Farabi yang akan penulis jelaskan pada bahasan ini antara lain; Filsafat Keesaan Tuhan, Teori Kenabian dan teori Emanasi.
PEMBAHASAN
A. Biografi Al Faraby
Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad arkhan ibn Al Uzalagh Al Faraby lahir di Wasij di Distrik Farab (yang juga dikenal dengan nama Utrar) di Negara Turkistan (Transoxiana),tahun 257 H/870M, dan meninggal di Damaskus pada tahun 334 H/ 950 M. Ayahnya keturunan dari Persia dan menikah dengan seorang wanita Turki. Karenanya Al Farabi terkadang dikatakan sebagai keturunan Persia dan Turki. Kepribadian Al farabi sejak kecil, ia tekun dan rajin belajar. Dalam berolah kata, tutur bahasa mempunyai kecakapan yang luar biasa.
Al Farabi belajar pertama kali di kota kelahirannya kemudian pindah ke Bagdad dimana ia belajar Ilmu Manthiq pada Abu Basyar Mantius Ibnu Yunus, dan kemudian menuju Harran belajar pada Yuhana Ibnu Hilan. Kemudian kembali ke Bagdad untuk memperdalam ilmu lsafat akhirnya ia mampu mencapai ilmu Manthiq, sehingga ia mendapat predikat guru kedua.
Selain itu sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 330 H, ia pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif Al Daulah Al Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat besar, tetapi Al Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham saja sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tatapi hal yang menggembirakannya di tempat yang baru ini ALfarabi bertemu dengan para sastrawan, penyair, ahli bahasa, fikih dan ahli cendekiawan lainnya.
Al Farabi dikenal sebagai filsuf Islam yang memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna,sehingga filsuf yang datang sesudahnya seperti Ibnu Sina dan Ibnu rusyd banyak mengambil dan mengupas filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dengan aristoteles lewat risalahnya Al Jam’u baina Ra’yi Al hakimain Aflatun wa Aristhu.
B. Pemikiran Al Farabi
Al Farabi adalah seorang ahli fikir yang sangat dalam ilmunya, pemikiran meliputi antara lain: filsafat Keesaan Tuhan, filsafat Kenabian dan teori Emanasi. Al Farabi juga merupakan filsuf pertama yang mempertemukan filsafat Aristoteles dengan filsafat neo Platonisme, mempertemukan filsafat “eksistensi” Aristoteles dengan filsafat “Yang Satu” Al Kindi. Menurut Al farabi, Allah adalah Al Maujud Al Awwal (yang eksis pertama), al awwal (pertama) ialah sumber pertama bagi seluruh wujud dan sebab pertama bagi eksistensinya.
a. Filsafat Keesaan Tuhan
Al faraby menyatakan bahwa Allah adalah wujud yang sempurna adalah yang ada tanpa suatu sebab, karena apabila ada sebab bagi Nya berarti tidak sempurna sebab bergantung kepadannya. Ia wujud yang paling dahulu dan paling mulia. Karena itu Tuhan adalah zat yang azali dan yang selalu ada. Zatnya itu sendiri sudah cukup menjadi sebab bagi kebadian wujud Nya. Wujudnya tidak terdiri dari matter (benda) dan bentuk, yaitu ada bagian yang terdapat pada makhluk. Apabila Ia terdiri dari dua bentuk tadi berarti ia terdapat di dalamnya susunan pada zat Nya. Dan ini tidak mungkin bagi wujud yang sempurna. Karena kesempurnaan itu, maka tidak ada sesuau yang sempurna yang terdapat pada selain Nya, Ia menyendiri dengan kesempurnaannya. Oleh sebab itulah Tuhan Esa, tidak ada sekutu bagi Nya.
Apabila Tuhan lebih dari satu, maka Tuhan itu adakalanya sama-sama sempurna wujudnya atau barang kali berbeda dalam sesuatu sifat-sifat tertentu. Dengan demikian tiap-tiap Tuhan mempunyai dua macam sifat yaitu sifat umum yang dimilki bersama-sama oleh Tuhan-Tuhan itu dan sifat-sifat khusus yang hanya terdapat pada masing-masing Tuhan. Inilah sesuatu yang tidak mungkin.
Demikian pula karena Tuhan itu tunggal, maka Ia tidak dapat diberi batasan , karena batasan berarti penyususnan yaitu dengan memakai spices dan differensia atau dengan memakai matter dan form, seperti halnya dengan jauhar (benda), sedang kesemuanya itu adalah mustahil bagi Tuhan. Oleh karena itu Tuhan yang tidak dapat dibatasi ini tidak akan dapat dicapai oleh manusia yang terbatas ini dengan sempurna. Sebagaimana suatu cahaya yang sangat kuat yang meyilaukan mata, sehingga kita sulit menguraikan sifat-sifat cahaya tu yang sebenarnya.
Sifata-sifat tuhan
Tuhan adalah tunggal. Ia tidak berbeda dari zatnya. Tuhan merupakan akal murni, karena yang mengahalang-halangi sesuatu untuk menjadi objek pemikiran adalah benda, maka sesuatu itu berada. Apabila wujud sesuatu tidak membutuhkan benda, maka sesuatu itu benar-benar akal. Demikian juga dengan zat Nya juga menjadi objek pekiraan karena Ia adalah akal pikiran. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk memikirkan zat Nya sendiri, tetapi cukup dengan zat Nya sendiri itu pula menjadi objek pemikiran. Dengan demikian zat Tuhan yang satu itu juga akal pikiran, zat yang berpikir dan zat yang dipikirkan atau ia menja aqal, ‘aqil dan ma’qul.
Tuhan adalah zat yang Maha Mengtahui, Ia tanpa memerlukan sesuatu yang lain untuk dapat mengetahui. Demikian pula Tuhan untuk dapat diketaui oleh zat Nya sendiri (menjadi objek ilmu Nya), juga memerlukan sesuatu yang mengetahuinya, jadi Tuhan cukup dengan zat Nya sendiri untuk mengetahui dan diketui, ilmu Tuhan terhadap dirinya tidak lain hanyalah zat Nya itu sendiri pula. Denga demikian, ilmu dan zat ng mempunyai ilmu adalah satu atau ia adalah ilmu yang mengetahui dan menjadi objek ilmu-ilmunya
Karena Tuhan itu Agung dan Sempurna, maka Ia mencintai dan merindukan zat Nya sendiri. Dengan demikian, maka Tuhan itu adalah zat yan merindukan pula. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa Al faraby berusaha keras dalam menunjukkan keEsaan Tuhan dan ketunggalannya dan bahwa sifat-sifatya tidak lain adalah zatnya sendiri.
b. Teori Kenabian
Teori Kenabian yang diajukan Al Farabi dimotivasi oleh pemikiran filsuf pada masanya yaitu Ibnu Ruwandi dan Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakari Ar Razi yang mengingkari eksistensi kenabian. Menurut Al Farabi, manusia dapat berhubungan dengan akal fa’al melalui dua cara. Pertama, melalui penalaran dan ini hanya dapat dilakukan oleh pribadi pilihan yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Kedua, melalui imajinasi (intuisi), ini hanya dapat dilakukan oleh Nabi.
Yang menjadi perbedaan antara nabi dan filsuf, bagi Al Farabi yaitu nabi yang mempunyai imaginasi yang kuat di mana objek inderawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya ketika ia berhubungan dengan akal fa’al, ia dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu. Wahyu adalah limpahan dari Tuhan melalui akal fa’al. Nabi Isa langsung berhubungan dengan akal fa’al tanpa latihan apa-apa sebab Allah telah menganugerahi padanya kekuatan suci dengan daya tangkap yang luar biasa (hads). Lain halnya dengan para filsuf, mereka dapat berhubungan dengan Tuhan melalui akal mustafat (perolehan) yang telah terlatih dan sangat kuat daya tangkapnya sehingga dapat menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni dari akal fa’al.
Ini teori kenabian yang dikemukakan oleh Al Farabi, yang menurutnya Nabi dan filsuf adalah dua pribadi yang shaleh yang akan memimpin negeri utama, di mana keduanya dapat berhubungan dengan akal fa’al yang menjadi sumber syari’at dan aturan yang diperlukan bagi kehidupan negeri itu. Perbedaan keduanya bahwa nabi dapat meraih hubungan imajinasi, sedangkan filsuf melalui studi dan analisis.
c. Teori Emanasi
Al Farabi berusaha memurnikan tauhid dengan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan melalui filsafat emanasi. Teori emanasi yang dikemukakan Al Farabi bahwa dari wujud Tuhan memancar wujud alam semesta. Pemancaran ini terjadi melalui tafakkur (berpikirnya) Tuhan tentang diriNya sendiri, tafakkur Tuhan tentang diriNya ini menjadi sebab adanya alam semesta, tafakkur Tuhan tentang dirinya adalah ilmu tentang diriNya dan ilmu itu adalah daya yang menciptakan segala sesuatu.
Dalam filsafat emanasi Al Farabi juga mengatakan bahwa Tuhan merupakan Wujud Pertama Al Wujud al Awwal) dan dengan pemikiran itu timbullah Wujud Kedua (Al Wujud Tsani) yang juga mempunyai subtansi. Ia disebut akal Pertama (Al Aqlu Awwal) yang tidak bersifat materi. Wujud kedua ini berfikir tentang Wujud Pertama, dan dari pemikiran itu timbul Wujud Ketiga (Al Wujud ast Tsalist) disebut akal Kedua (Al Aqlu Al Tsani). Wujud Kedua atau akal pertama ini juga berfikir tentang dirinya dan dari pemikiran itu timbullah Langit Pertama. Kemudian akal Kedua, berpikir tentang Tuhan, dan dari pemikiran itu timbullah akal ketiga, dan akal ketiga ini dengan tafakkur pada dirinya mewujudkan alam bintang. Begitulah rangkaian pemancaran itu berlangsung hingga sampai pada akal kesepuluh. Tafakkur akal-akal itu tentang Tuhan menghasilkan planet-planet.
Demikianlah menurut Al Farabi tentang proses penciptaan Alam, dan dengan cara emanasi, maka terhindarkanlah Tuhan dari arti banyak. Dengan teori emanasi pula al Farabi sampai pada suatu kesimpulan bahwa ala mini qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam waktu. Baginya yang qadim bukan hanya Allah swt, tetapi juga ciptaanNya. Tuhan menciptakan alam ini bukan dari suatu yang tidak ada, melainkan dari yang ada, karena penciptaan dari yang tidak ada, tidak mungkin selain itu Al Farabi berpendapat bahwa alam ini tidak terjadi secara berangsur-angsur, melainkan sekaligus dengan tidak berwaktu.
KESIMPULAN
Al Farabi adalah salah satu filsuf Islam yang terkenal dengan kedalaman ilmu pengetahuannya dalam berbagai bidang. Ia merupakan seorang filsuf yang berdarah Persia-Turki. Al Farabi dikenal sebagai filsuf Islam yang memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna,sehingga filsuf yang datang sesudahnya seperti Ibnu Sina dan Ibnu rusyd banyak mengambil dan mengupas filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dengan aristoteles lewat risalahnya Al Jam’u baina Ra’yi Al hakimain Aflatun wa Aristhu.
Di samping itu, Al Farabi adalah seorang ahli fikir yang sangat dalam ilmunya, pemikiran meliputi antara lain: filsafat Keesaan Tuhan, filsafat Kenabian dan teori Emanasi. Al Farabi juga merupakan filsuf pertama yang mempertemukan filsafat Aristoteles dengan filsafat neo Platonisme, mempertemukan filsafat “eksistensi” Aristoteles dengan filsafat “Yang Satu” Al Kindi. Menurut Al farabi, Allah adalah Al Maujud Al Awwal (yang eksis pertama), al awwal (pertama) ialah sumber pertama bagi seluruh wujud dan sebab pertama bagi eksistensinya.
REFERENSI
Mulyadhi Kartanegara, dkk, Antara Al Faraby dan Khomeini: Filsafat Politik Islam, Bandung: Mizan, 2002
Mustafa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Syamsul Rijal, dkk, Studi Filsafat Umum, Banda Aceh: Fakultas Ushuluddin, 2003
Hasyimsyah Nasution, Filsasat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005
Filsafat Yunani tersebar ke Timur Tengah bersama dengan penaklukan Iskandar Agung. Para Ulama dan ahli fikih mempunyai andil dalam penaklukan itu. Hal ini menjadikan filsafat Yunani berkembang di daerah ini bahkan sampai datangnya penaklukan dari Roma pun, aliran-aliran ini msih berpengaruh dalam masyarakat.
Oleh karena itu, sejarah menyatakan bahwa filsafat Islam lahir akibat adanya kontak budaya antara Yunani dan Islam. Kontak ini terjadi melalui beberapa cara, antara lain penerjemahan buku atau interaksi langsung. Hal ini seperti terjadi pada pemerintahan Abbasiyyah. Tidak dipungkiri, filsuf Islam pun lahir disebabkan adanya filsafat Islam sebagaimana adanya filsuf Yunani.
Salah satu filsuf Islam yang terkenal adalah Al Farabi yang akan penulis jelaskan pada makalah ini. Ada beberapa pemikiran Al Farabi yang akan penulis jelaskan pada bahasan ini antara lain; Filsafat Keesaan Tuhan, Teori Kenabian dan teori Emanasi.
PEMBAHASAN
A. Biografi Al Faraby
Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad arkhan ibn Al Uzalagh Al Faraby lahir di Wasij di Distrik Farab (yang juga dikenal dengan nama Utrar) di Negara Turkistan (Transoxiana),tahun 257 H/870M, dan meninggal di Damaskus pada tahun 334 H/ 950 M. Ayahnya keturunan dari Persia dan menikah dengan seorang wanita Turki. Karenanya Al Farabi terkadang dikatakan sebagai keturunan Persia dan Turki. Kepribadian Al farabi sejak kecil, ia tekun dan rajin belajar. Dalam berolah kata, tutur bahasa mempunyai kecakapan yang luar biasa.
Al Farabi belajar pertama kali di kota kelahirannya kemudian pindah ke Bagdad dimana ia belajar Ilmu Manthiq pada Abu Basyar Mantius Ibnu Yunus, dan kemudian menuju Harran belajar pada Yuhana Ibnu Hilan. Kemudian kembali ke Bagdad untuk memperdalam ilmu lsafat akhirnya ia mampu mencapai ilmu Manthiq, sehingga ia mendapat predikat guru kedua.
Selain itu sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 330 H, ia pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif Al Daulah Al Hamdani, Sultan Dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat besar, tetapi Al Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud) dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan. Ia hanya memerlukan empat dirham saja sehari untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tatapi hal yang menggembirakannya di tempat yang baru ini ALfarabi bertemu dengan para sastrawan, penyair, ahli bahasa, fikih dan ahli cendekiawan lainnya.
Al Farabi dikenal sebagai filsuf Islam yang memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna,sehingga filsuf yang datang sesudahnya seperti Ibnu Sina dan Ibnu rusyd banyak mengambil dan mengupas filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dengan aristoteles lewat risalahnya Al Jam’u baina Ra’yi Al hakimain Aflatun wa Aristhu.
B. Pemikiran Al Farabi
Al Farabi adalah seorang ahli fikir yang sangat dalam ilmunya, pemikiran meliputi antara lain: filsafat Keesaan Tuhan, filsafat Kenabian dan teori Emanasi. Al Farabi juga merupakan filsuf pertama yang mempertemukan filsafat Aristoteles dengan filsafat neo Platonisme, mempertemukan filsafat “eksistensi” Aristoteles dengan filsafat “Yang Satu” Al Kindi. Menurut Al farabi, Allah adalah Al Maujud Al Awwal (yang eksis pertama), al awwal (pertama) ialah sumber pertama bagi seluruh wujud dan sebab pertama bagi eksistensinya.
a. Filsafat Keesaan Tuhan
Al faraby menyatakan bahwa Allah adalah wujud yang sempurna adalah yang ada tanpa suatu sebab, karena apabila ada sebab bagi Nya berarti tidak sempurna sebab bergantung kepadannya. Ia wujud yang paling dahulu dan paling mulia. Karena itu Tuhan adalah zat yang azali dan yang selalu ada. Zatnya itu sendiri sudah cukup menjadi sebab bagi kebadian wujud Nya. Wujudnya tidak terdiri dari matter (benda) dan bentuk, yaitu ada bagian yang terdapat pada makhluk. Apabila Ia terdiri dari dua bentuk tadi berarti ia terdapat di dalamnya susunan pada zat Nya. Dan ini tidak mungkin bagi wujud yang sempurna. Karena kesempurnaan itu, maka tidak ada sesuau yang sempurna yang terdapat pada selain Nya, Ia menyendiri dengan kesempurnaannya. Oleh sebab itulah Tuhan Esa, tidak ada sekutu bagi Nya.
Apabila Tuhan lebih dari satu, maka Tuhan itu adakalanya sama-sama sempurna wujudnya atau barang kali berbeda dalam sesuatu sifat-sifat tertentu. Dengan demikian tiap-tiap Tuhan mempunyai dua macam sifat yaitu sifat umum yang dimilki bersama-sama oleh Tuhan-Tuhan itu dan sifat-sifat khusus yang hanya terdapat pada masing-masing Tuhan. Inilah sesuatu yang tidak mungkin.
Demikian pula karena Tuhan itu tunggal, maka Ia tidak dapat diberi batasan , karena batasan berarti penyususnan yaitu dengan memakai spices dan differensia atau dengan memakai matter dan form, seperti halnya dengan jauhar (benda), sedang kesemuanya itu adalah mustahil bagi Tuhan. Oleh karena itu Tuhan yang tidak dapat dibatasi ini tidak akan dapat dicapai oleh manusia yang terbatas ini dengan sempurna. Sebagaimana suatu cahaya yang sangat kuat yang meyilaukan mata, sehingga kita sulit menguraikan sifat-sifat cahaya tu yang sebenarnya.
Sifata-sifat tuhan
Tuhan adalah tunggal. Ia tidak berbeda dari zatnya. Tuhan merupakan akal murni, karena yang mengahalang-halangi sesuatu untuk menjadi objek pemikiran adalah benda, maka sesuatu itu berada. Apabila wujud sesuatu tidak membutuhkan benda, maka sesuatu itu benar-benar akal. Demikian juga dengan zat Nya juga menjadi objek pekiraan karena Ia adalah akal pikiran. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk memikirkan zat Nya sendiri, tetapi cukup dengan zat Nya sendiri itu pula menjadi objek pemikiran. Dengan demikian zat Tuhan yang satu itu juga akal pikiran, zat yang berpikir dan zat yang dipikirkan atau ia menja aqal, ‘aqil dan ma’qul.
Tuhan adalah zat yang Maha Mengtahui, Ia tanpa memerlukan sesuatu yang lain untuk dapat mengetahui. Demikian pula Tuhan untuk dapat diketaui oleh zat Nya sendiri (menjadi objek ilmu Nya), juga memerlukan sesuatu yang mengetahuinya, jadi Tuhan cukup dengan zat Nya sendiri untuk mengetahui dan diketui, ilmu Tuhan terhadap dirinya tidak lain hanyalah zat Nya itu sendiri pula. Denga demikian, ilmu dan zat ng mempunyai ilmu adalah satu atau ia adalah ilmu yang mengetahui dan menjadi objek ilmu-ilmunya
Karena Tuhan itu Agung dan Sempurna, maka Ia mencintai dan merindukan zat Nya sendiri. Dengan demikian, maka Tuhan itu adalah zat yan merindukan pula. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa Al faraby berusaha keras dalam menunjukkan keEsaan Tuhan dan ketunggalannya dan bahwa sifat-sifatya tidak lain adalah zatnya sendiri.
b. Teori Kenabian
Teori Kenabian yang diajukan Al Farabi dimotivasi oleh pemikiran filsuf pada masanya yaitu Ibnu Ruwandi dan Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakari Ar Razi yang mengingkari eksistensi kenabian. Menurut Al Farabi, manusia dapat berhubungan dengan akal fa’al melalui dua cara. Pertama, melalui penalaran dan ini hanya dapat dilakukan oleh pribadi pilihan yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Kedua, melalui imajinasi (intuisi), ini hanya dapat dilakukan oleh Nabi.
Yang menjadi perbedaan antara nabi dan filsuf, bagi Al Farabi yaitu nabi yang mempunyai imaginasi yang kuat di mana objek inderawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya ketika ia berhubungan dengan akal fa’al, ia dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu. Wahyu adalah limpahan dari Tuhan melalui akal fa’al. Nabi Isa langsung berhubungan dengan akal fa’al tanpa latihan apa-apa sebab Allah telah menganugerahi padanya kekuatan suci dengan daya tangkap yang luar biasa (hads). Lain halnya dengan para filsuf, mereka dapat berhubungan dengan Tuhan melalui akal mustafat (perolehan) yang telah terlatih dan sangat kuat daya tangkapnya sehingga dapat menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni dari akal fa’al.
Ini teori kenabian yang dikemukakan oleh Al Farabi, yang menurutnya Nabi dan filsuf adalah dua pribadi yang shaleh yang akan memimpin negeri utama, di mana keduanya dapat berhubungan dengan akal fa’al yang menjadi sumber syari’at dan aturan yang diperlukan bagi kehidupan negeri itu. Perbedaan keduanya bahwa nabi dapat meraih hubungan imajinasi, sedangkan filsuf melalui studi dan analisis.
c. Teori Emanasi
Al Farabi berusaha memurnikan tauhid dengan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan melalui filsafat emanasi. Teori emanasi yang dikemukakan Al Farabi bahwa dari wujud Tuhan memancar wujud alam semesta. Pemancaran ini terjadi melalui tafakkur (berpikirnya) Tuhan tentang diriNya sendiri, tafakkur Tuhan tentang diriNya ini menjadi sebab adanya alam semesta, tafakkur Tuhan tentang dirinya adalah ilmu tentang diriNya dan ilmu itu adalah daya yang menciptakan segala sesuatu.
Dalam filsafat emanasi Al Farabi juga mengatakan bahwa Tuhan merupakan Wujud Pertama Al Wujud al Awwal) dan dengan pemikiran itu timbullah Wujud Kedua (Al Wujud Tsani) yang juga mempunyai subtansi. Ia disebut akal Pertama (Al Aqlu Awwal) yang tidak bersifat materi. Wujud kedua ini berfikir tentang Wujud Pertama, dan dari pemikiran itu timbul Wujud Ketiga (Al Wujud ast Tsalist) disebut akal Kedua (Al Aqlu Al Tsani). Wujud Kedua atau akal pertama ini juga berfikir tentang dirinya dan dari pemikiran itu timbullah Langit Pertama. Kemudian akal Kedua, berpikir tentang Tuhan, dan dari pemikiran itu timbullah akal ketiga, dan akal ketiga ini dengan tafakkur pada dirinya mewujudkan alam bintang. Begitulah rangkaian pemancaran itu berlangsung hingga sampai pada akal kesepuluh. Tafakkur akal-akal itu tentang Tuhan menghasilkan planet-planet.
Demikianlah menurut Al Farabi tentang proses penciptaan Alam, dan dengan cara emanasi, maka terhindarkanlah Tuhan dari arti banyak. Dengan teori emanasi pula al Farabi sampai pada suatu kesimpulan bahwa ala mini qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam waktu. Baginya yang qadim bukan hanya Allah swt, tetapi juga ciptaanNya. Tuhan menciptakan alam ini bukan dari suatu yang tidak ada, melainkan dari yang ada, karena penciptaan dari yang tidak ada, tidak mungkin selain itu Al Farabi berpendapat bahwa alam ini tidak terjadi secara berangsur-angsur, melainkan sekaligus dengan tidak berwaktu.
KESIMPULAN
Al Farabi adalah salah satu filsuf Islam yang terkenal dengan kedalaman ilmu pengetahuannya dalam berbagai bidang. Ia merupakan seorang filsuf yang berdarah Persia-Turki. Al Farabi dikenal sebagai filsuf Islam yang memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna,sehingga filsuf yang datang sesudahnya seperti Ibnu Sina dan Ibnu rusyd banyak mengambil dan mengupas filsafatnya. Pandangan yang demikian mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi antara pemikiran Plato dengan aristoteles lewat risalahnya Al Jam’u baina Ra’yi Al hakimain Aflatun wa Aristhu.
Di samping itu, Al Farabi adalah seorang ahli fikir yang sangat dalam ilmunya, pemikiran meliputi antara lain: filsafat Keesaan Tuhan, filsafat Kenabian dan teori Emanasi. Al Farabi juga merupakan filsuf pertama yang mempertemukan filsafat Aristoteles dengan filsafat neo Platonisme, mempertemukan filsafat “eksistensi” Aristoteles dengan filsafat “Yang Satu” Al Kindi. Menurut Al farabi, Allah adalah Al Maujud Al Awwal (yang eksis pertama), al awwal (pertama) ialah sumber pertama bagi seluruh wujud dan sebab pertama bagi eksistensinya.
REFERENSI
Mulyadhi Kartanegara, dkk, Antara Al Faraby dan Khomeini: Filsafat Politik Islam, Bandung: Mizan, 2002
Mustafa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Syamsul Rijal, dkk, Studi Filsafat Umum, Banda Aceh: Fakultas Ushuluddin, 2003
Hasyimsyah Nasution, Filsasat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005
BAPAK ETIKA ISLAM
BIOGRAFI…
Pernah dengar filsuf yang namanya Ibnu Maskawaih?? Seorang filsuf yang terkenal sebagai pengemuka teori etika pertama sekaligus menulis buku tentang etika. Yah, nama lengkap beliau Abu Ali AlKhasim Ahmad bin Ya’qub bin Maskawaih. Ia lahir di kota Ray tahun 330 H dan meninggal di Ash Fahan tahun 421 H.
IBNU MASKAWAIH DIKENAL SEBAGAI SEORANG FILSUF AKHLAK….
PEMIKIRANNYA
Ibnu miskawaih seorang moralis yang terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam, filsafatnya ini selalu mendapat perhatian utama. Keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran Islam (Al Qur’an dan Hadist) dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai ppelengkap seperti filsafat Yunani kuno da pemikiran Persia. Dimaksud dengan pelengkap ialah sumber lain baru diambilnya apabila sejalan dengan ajaran Islam dan sebaliknya ia tolak,jikatidak demikian. Akhlak, menurut konsep ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.
Berdasarkan paparan di atas, secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang-orang Yunani yang mengatakan bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bias berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan (tarbiyah akhlaq) dan latihan-latihan. . Pemikiran seperti ini jelas sejalan dengan ajaran Islam karena kandungan ajaran Islam secara eksplisit tidak mengisyaratkan kearah ini dan pada hakikatnya syari’at agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia. Kebenaranian jelas tidak dapat dibantah, sedangkan akhlak atau sifat binatang saja bisa berubah dari liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Pernah dengar filsuf yang namanya Ibnu Maskawaih?? Seorang filsuf yang terkenal sebagai pengemuka teori etika pertama sekaligus menulis buku tentang etika. Yah, nama lengkap beliau Abu Ali AlKhasim Ahmad bin Ya’qub bin Maskawaih. Ia lahir di kota Ray tahun 330 H dan meninggal di Ash Fahan tahun 421 H.
IBNU MASKAWAIH DIKENAL SEBAGAI SEORANG FILSUF AKHLAK….
PEMIKIRANNYA
Ibnu miskawaih seorang moralis yang terkenal. Hampir setiap pembahasan akhlak dalam Islam, filsafatnya ini selalu mendapat perhatian utama. Keistimewaan yang menarik dalam tulisannya ialah pembahasan yang didasarkan pada ajaran Islam (Al Qur’an dan Hadist) dan dikombinasikan dengan pemikiran yang lain sebagai ppelengkap seperti filsafat Yunani kuno da pemikiran Persia. Dimaksud dengan pelengkap ialah sumber lain baru diambilnya apabila sejalan dengan ajaran Islam dan sebaliknya ia tolak,jikatidak demikian. Akhlak, menurut konsep ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.
Berdasarkan paparan di atas, secara tidak langsung Ibnu Miskawaih menolak pandangan orang-orang Yunani yang mengatakan bahwa akhlak manusia tidak dapat berubah. Bagi Ibnu Miskawaih akhlak yang tercela bias berubah menjadi akhlak yang terpuji dengan jalan pendidikan (tarbiyah akhlaq) dan latihan-latihan. . Pemikiran seperti ini jelas sejalan dengan ajaran Islam karena kandungan ajaran Islam secara eksplisit tidak mengisyaratkan kearah ini dan pada hakikatnya syari’at agama bertujuan untuk mengokohkan dan memperbaiki akhlak manusia. Kebenaranian jelas tidak dapat dibantah, sedangkan akhlak atau sifat binatang saja bisa berubah dari liar menjadi jinak, apalagi akhlak manusia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
